Apa Itu Terapi Okupasi dan Siapa yang Membutuhkannya?

Pernahkah Anda mendengar istilah terapi okupasi? Ini merupakan salah satu bagian dari fisioterapi yang mulai banyak tersedia di rumah sakit di Indonesia. Sayangnya masih banyak orang yang belum mengetahui mengenai terapi ini padahal sebenarnya dalam kondisi tertentu terapi ini akan sangat bermanfaat. Supaya Anda bisa lebih memahaminya, berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai terapi ini.

Terapi okupasi merupakan sebuah terapi khusus untuk seseorang yang mengalami masalah untuk melakukan beberapa kegiatan keseharian. Misalnya sulit bekerja, makan, mencuci, dan sebagainya. Dengan melakukan terapi ini diharapkan pasien akan lebih bisa mandiri dengan mengerjakan berbagai hal tersebut sendiri tanpa bantuan orang lain.

Terapi Okupasi pada anak

Terapi Okupasi pada anak

Lalu siapa sajakah yang membutuhkan terapi ini? Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

  • Seseorang yang mengalami cedera saat bekerja dan sedang dalam masa pemulihan
  • Orang yang memasuki masa lanjut usia dan mulai kehilangan kemampuannya untuk melakukan beberapa jenis kegiatan sendiri
  • Seseorang dengan keterbatasan fisik akibat penyakit yang diderita (seperti stroke)
  • Seseorang yang menderita penyakit bawaan sehingga mengalami keterbatasan dalam beraktivitas
  • Seseorang dengan masalah perilaku akibat adanya masalah pada mental ataupun akibat penyakit tertentu seperti alzheimer

Pada bayi yang baru lahir dan sudah terdeteksi mengalami kelainan bawaan, terapi okupasi bisa dilakukan sedini mungkin sesuai dengan arahan dokter. Itulah sebabnya, kondisi anak merupakan hal yang wajib diketahui saat bayi baru lahir oleh orangtuanya. Dengan begitu, orangtua dapat segera mengambil tindakan tepat jika memang terdapat masalah kesehatan pada anak.

Sama halnya dengan terapi lain pada fisioterapi, terapi okupasi juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Terapi dilakukan secara bertahap, yaitu:

  • Mempelajari riwayat penyakit pasien dan mengevaluasi kebutuhan pasien. Tahapan ini dilakukan dengan melakukan diskusi dengan pasien dan jika dibutuhkan dengan dokter yang menangani penyakit pasien.
  • Mulai merencanakan treatment untuk pasien dalam mengatasi masalah keterbatasan yang dimilikinya untuk mencapai goals dari terapi ini.
  • Mulai melatih pasien untuk melakukan beberapa kegiatan sesuai dengan treatment yang telah direncanakannya. Latihan ini akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien.
  • Melakukan evaluasi pada kondisi rumah dan kantor pasien sebagai dasar untuk menganalisa kebutuhan pasien sesuai dengan goals dan kondisi kesehatan pasien.
  • Melakukan edukasi pada keluarga dan kerabat pasien untuk mendukung proses terapi di tempat tinggalnya.
  • Merekomendasikan alat bantu seperti kursi roda atau alat bantu lainnya jika kondisi pasien memang membutuhkannya.

Agar hasil terapi ini dapat maksimal, pastikan Anda ataupun keluarga Anda yang sedang menjalani treatment terapi okupasi mengatakan semua hal yang dibutuhkannya atau ingin dicapai dari terapi ini. Selain itu, jangan pernah mengabaikan sesi terapi yang sudah dijadwalkan karena alasan-alasan tertentu yang sebenarnya kurang begitu penting. Sebab semua jenis terapi yang dilakukan pada fisioterapi membutuhkan peran dan kerjasama dari banyak pihak, yaitu pasien, keluarga, dan tentunya terapis, termasuk juga untuk terapi okupasi. Semoga lekas sembuh! (Vita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *